Pemenangnya dipastikan, saya sendiri.
Keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat paham persis, bagaimana gamangnya saya ketika dihadapkan pada suatu keadaan yang mengharuskan saya untuk memilih, bahkan memilih hal-hal domestik seperti:
"Minum susunya pagi ini atau nanti malam aja ya?"
Kalau malam, nanti pasti lupa sikat gigi. Kalau pagi, nggak bisa minum vitamin, padahal lagi banyak kegiatan.
Kalau malam, nanti pasti lupa sikat gigi. Kalau pagi, nggak bisa minum vitamin, padahal lagi banyak kegiatan.
"Paper belum kelar, presentasi belum buat, tapi capek banget pulang latihan. Tidur dulu besok subuh selesaiin, atau sekarang aja ya ntar baru sempetin tidur?
Kalau begadang, besoknya nggak bisa mikir. Kalau dibawa tidur dulu, nanti ga bisa bangun dan grabak-grubuk."
Kalau begadang, besoknya nggak bisa mikir. Kalau dibawa tidur dulu, nanti ga bisa bangun dan grabak-grubuk."
"Aku keramas nggak ya hari ini, Bu? Cium deh, udah bau belom?
Kalau keramas nanti telat. Kalau nggak keramas, lepek. Bau.
Kalau keramas nanti telat. Kalau nggak keramas, lepek. Bau.
Yes. I sweat micro stuff.
Argumennya, prioritas saya dan mereka memang berbeda.
Apa yang tidak penting untuk dipikirkan oleh mereka, belum tentu tidak penting bagi saya.
Misal, keputusan untuk memilih sarapan sereal atau roti: kandungan gizinya, efek jangka waktu kekenyangannya supaya bisa menentukan mau makan lagi kapan, vitamin atau obat yang akan diminum pagi itu agar dapat terserap maksimal oleh tubuh, dan lain sebagainya yang...'super nggak penting', kata mereka.
Apa yang tidak penting untuk dipikirkan oleh mereka, belum tentu tidak penting bagi saya.
Misal, keputusan untuk memilih sarapan sereal atau roti: kandungan gizinya, efek jangka waktu kekenyangannya supaya bisa menentukan mau makan lagi kapan, vitamin atau obat yang akan diminum pagi itu agar dapat terserap maksimal oleh tubuh, dan lain sebagainya yang...'super nggak penting', kata mereka.
Sering kita mendengar bahwa sejak bangun tidur, seseorang sudah harus mampu mengambil keputusan karena manusia pada hakekatnya hidup demi kepentingan.
Kepentingan siapa?
Pertanyaan yang sampai sekarang masih dijawab "Gue sendiri lah!" tapi terlalu malu untuk mengakui, sehingga berusaha mengerdilkan ego dengan jawaban retoris bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan bersama, keharmonisan segala makhluk, membantu yang kesulitan, dan kawan-kawannya yang indah.
Pertanyaan yang sampai sekarang masih dijawab "Gue sendiri lah!" tapi terlalu malu untuk mengakui, sehingga berusaha mengerdilkan ego dengan jawaban retoris bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan bersama, keharmonisan segala makhluk, membantu yang kesulitan, dan kawan-kawannya yang indah.
Berkeinginan memiliki kebebasan, paralel dengan kesiapan untuk memilih.
Paralel dengan keberanian untuk menerima kejutan kelanjutan dampak pilihan yang kita ambil, baik ataupun buruk.
Dampak ini, bukan hanya untuk diri sendiri.
Paralel dengan keberanian untuk menerima kejutan kelanjutan dampak pilihan yang kita ambil, baik ataupun buruk.
Dampak ini, bukan hanya untuk diri sendiri.
Dampak keputusan yang kita ambil memberikan pengaruh kepada orang lain. Baik itu mereka yang terlibat langsung (nggak keramas sama dengan rambut lepek dan bau sama dengan diprotes bos karena ga tampil prima sama dengan pacar kebauan nggak bisa cium rambut. Kasihan dong?); mereka yang ada di dalam keseharian kegiatan kita; bahkan mereka yang ada dalam kehidupan kita, kenal atau tidak.
Terima kasih untuk Mitch Albom, dalam paparan romantisnya akan hidup melalui novel The Five People You Meet in Heaven. Kekhawatiran sederhana ini diperdalam oleh karyanya. Satu kalimat menarik yang di tuturkan oleh salah satu karakter dalam novel tersebut,
" Everything happens for a reason. There are no random events in life. All lives and experiences are interconnected in some way, and even the little things you do can affect other people's lives and experiences dramatically"
Terima kasih untuk Mitch Albom, dalam paparan romantisnya akan hidup melalui novel The Five People You Meet in Heaven. Kekhawatiran sederhana ini diperdalam oleh karyanya. Satu kalimat menarik yang di tuturkan oleh salah satu karakter dalam novel tersebut,
" Everything happens for a reason. There are no random events in life. All lives and experiences are interconnected in some way, and even the little things you do can affect other people's lives and experiences dramatically"
Saya salut dengan mereka yang berani memilih kebebasan, bahkan memintanya.
Saya takut. Saya terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, rasakan. Saya takut keputusan yang saya ambil menyakiti mereka.
Dilalah, dampaknya buruk. jadi memikirkan hal-hal yang tidak esensial, merepotkan, atau kerepotan sendiri.
Dapat dibayangkan, betapa hal kecil mempengaruhi saya sedemikian rupa sehingga ragu mengambil keputusan. Apalagi hal besar. Terbukti pengecut memang, tidak berani memilih hal paling sederhana sekalipun. Selalu meminta persetujuan orang lain.
Alasan sebenarnya, saya lakukan semata-mata karena saya tidak ingin merugikan atau menyakiti siapapun, sekecil apapun keputusan yang saya ambil.
Saya takut. Saya terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, rasakan. Saya takut keputusan yang saya ambil menyakiti mereka.
Dilalah, dampaknya buruk. jadi memikirkan hal-hal yang tidak esensial, merepotkan, atau kerepotan sendiri.
Dapat dibayangkan, betapa hal kecil mempengaruhi saya sedemikian rupa sehingga ragu mengambil keputusan. Apalagi hal besar. Terbukti pengecut memang, tidak berani memilih hal paling sederhana sekalipun. Selalu meminta persetujuan orang lain.
Alasan sebenarnya, saya lakukan semata-mata karena saya tidak ingin merugikan atau menyakiti siapapun, sekecil apapun keputusan yang saya ambil.
Saya punya mimpi, yang bahkan saya sendiri malu untuk mengakuinya, karena banyak orang akan tertawa.
Mengingat saya cukup ahli dalam mengakomodasi kebutuhan orang lain, saya memutuskan, membahagiakan orang lain adalah mimpi saya selanjutnya.
Saya percaya mimpi ini akan membawa saya pada kebahagiaan, meskipun kebahagiaan tersebut tidak sama bentuknya jika saya mengejar kebahagiaan lain yang sifatnya ego sentris.
Toh, bahagia, apapun rupa dan wujudnya, tetap sama dalam rasa.
Tulisan ini bisa dikatakan sebagai justifikasi kerempongan dan kelabilan saya.
Niatan diri tidak menyakiti, malah jadi merepotkan dan mengesalkan.
Niatan diri tidak menyakiti, malah jadi merepotkan dan mengesalkan.
Tapi percayalah, intinya, saya sayang kalian dan tidak mau salah langkah.
Pun setelah dipikir kembali, hal kecil ini bisa jadi sedikit bukti bahwa kita, saya khususnya, pada dasarnya hidup untuk orang lain. Memilih, untuk kepentingan bersama.
Meskipun hanya keputusan sederhana: " keramas atau tidak?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar