Senin, 01 Desember 2014

Kepo

Aku senang jalan-jalan
Melihat apa yang kutemukan

Aku senang jalan-jalan
Melihat halamanmu

Bukan, 
Bukan pekarangan maksudku

Halamanmu

Ketika tak ada bahasa yang terucap
Sesakku terobati dengan rasamu yang tersurat

Halamanmu

Aku akan menemukanmu disana
Mengeja kata demi kata
Apa yang kamu rasa

Panggil aku "sok tahu"

Bilang saja "aku benci kamu"

Hati mendengar
Meski telinga tak berguna

Hati melihat
Meski mata terpejam

Jadi,
Aku jalan-jalan
Menemukanmu
Jatuh mencintai kenanganku







Jumat, 24 Oktober 2014

Soulmate

"Jiwa tidak dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah."   -Dewi Lestari



Berat rasanya menerima bahwa seseorang diciptakan untuk tinggal di hati kita, bukan hidup kita. Saya percaya istilah belahan jiwa, dan (dipaksa) percaya bahwa belahan jiwa tidak selalu berarti orang yang akan menghabiskan hidupnya bersamamu. 

Ia bisa berada disana, menyayangimu dalam doa. 
Menangis saat kita bersedih, dan bahagia saat kita tertawa. 
Ada kalanya ia bersembunyi dalam diam dan marahnya, 
tapi satu yang menjadi dua tak bisa ditipu daya 
karena apa yang dirasa, sejatinya sama.

Melepas pergi selalu jadi perjuangan berat. 
Ketika logika harus menjadi pemenang dalam pertandingan melawan rasa.

Mungkin memang ada jiwa lain yang searah, dan kita bebas memilih untuk berjalan bersamanya. 
Meninggalkan separuh hati yang diam seakan bukan takdir untuk bersama.













Teman Baik

"
Rindu ini telah mengendap ikhlas walau tak berbalas
Seperti endapan kopi yang tak pernah diteguk.

Kita adalah sepasang diam yang paling menyakitkan.
Usai, tapi tidak selesai.

Sayang, bila kelak ternyata kita hidup dalam rumah yang berbeda, kunjungi aku sebagai teman baik

...yang pernah memimpikan sebuah atap bersamamu.

"

                                                                                                                              -kompilasi syair-syair indah tanpa nama

Kangen

Ada saatnya ketika kita merasakan cinta pada kenangan lebih dari cinta pada orang dihadapanmu.






Selasa, 11 Juni 2013

Indesisif

Kalau ada penghargaan untuk orang terindesisif dalam hidup saya,

Pemenangnya dipastikan, saya sendiri. 

Keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat paham persis, bagaimana gamangnya saya ketika dihadapkan pada suatu keadaan yang mengharuskan saya untuk memilih, bahkan memilih hal-hal domestik seperti:

"Minum susunya pagi ini atau nanti malam aja ya?"
Kalau malam, nanti pasti lupa sikat gigi. Kalau pagi, nggak bisa minum vitamin, padahal lagi banyak kegiatan.

"Paper belum kelar, presentasi belum buat, tapi capek banget pulang latihan. Tidur dulu besok subuh selesaiin, atau sekarang aja ya ntar baru sempetin tidur?
Kalau begadang, besoknya nggak bisa mikir. Kalau dibawa tidur dulu, nanti ga bisa bangun dan grabak-grubuk."

"Aku keramas nggak ya hari ini, Bu? Cium deh, udah bau belom?
Kalau keramas nanti telat. Kalau nggak keramas, lepek. Bau.

Yes. I sweat micro stuff. 

Argumennya, prioritas saya dan mereka memang berbeda.
Apa yang tidak penting untuk dipikirkan oleh mereka, belum tentu tidak penting bagi saya.
Misal, keputusan untuk memilih sarapan sereal atau roti:  kandungan gizinya, efek jangka waktu kekenyangannya supaya  bisa menentukan mau makan lagi kapan, vitamin atau obat yang akan diminum pagi itu agar dapat terserap maksimal oleh tubuh, dan lain sebagainya yang...'super nggak penting', kata mereka. 

Sering kita mendengar bahwa sejak bangun tidur, seseorang sudah harus mampu mengambil keputusan karena manusia pada hakekatnya hidup demi kepentingan.

Kepentingan siapa?
Pertanyaan yang sampai sekarang masih dijawab "Gue sendiri lah!" tapi terlalu malu untuk mengakui, sehingga berusaha mengerdilkan ego dengan jawaban retoris bahwa hidup ini adalah untuk kepentingan bersama, keharmonisan segala makhluk, membantu yang kesulitan, dan kawan-kawannya yang indah.

Berkeinginan memiliki kebebasan, paralel dengan kesiapan untuk memilih.
Paralel dengan keberanian untuk menerima kejutan kelanjutan dampak pilihan yang kita ambil, baik ataupun buruk.

Dampak ini, bukan hanya untuk diri sendiri.

Dampak keputusan yang kita ambil  memberikan pengaruh kepada orang lain. Baik itu mereka yang terlibat langsung (nggak keramas sama dengan rambut lepek dan bau sama dengan diprotes bos karena ga tampil prima sama dengan pacar kebauan nggak bisa cium rambut. Kasihan dong?); mereka yang ada di dalam keseharian kegiatan kita; bahkan mereka yang ada dalam kehidupan kita, kenal atau tidak.

Terima kasih untuk Mitch Albom, dalam paparan romantisnya akan hidup melalui novel The Five People You Meet in Heaven. Kekhawatiran sederhana ini diperdalam oleh karyanya. Satu kalimat menarik yang di tuturkan oleh salah satu karakter dalam novel tersebut,

 " Everything happens for a reason. There are no random events in life. All lives and experiences are interconnected in some way, and even the little things you do can affect other people's lives and experiences dramatically"

Saya salut dengan mereka yang berani memilih kebebasan, bahkan memintanya.
Saya  takut. Saya terlalu peduli dengan apa yang orang lain pikirkan, rasakan. Saya takut keputusan yang saya ambil menyakiti mereka.

Dilalah, dampaknya buruk. jadi memikirkan hal-hal yang tidak esensial, merepotkan, atau kerepotan sendiri. 
Dapat dibayangkan, betapa hal kecil mempengaruhi saya sedemikian rupa sehingga ragu mengambil keputusan. Apalagi hal besar. Terbukti pengecut memang, tidak berani memilih hal paling sederhana sekalipun. Selalu meminta persetujuan orang lain. 
Alasan sebenarnya, saya lakukan semata-mata karena saya tidak ingin merugikan atau menyakiti siapapun, sekecil apapun keputusan yang saya ambil. 

Saya punya mimpi, yang bahkan saya sendiri malu untuk mengakuinya, karena banyak orang akan tertawa.

Mengingat saya cukup ahli dalam mengakomodasi kebutuhan orang lain, saya  memutuskan, membahagiakan orang lain adalah mimpi saya selanjutnya.
Saya percaya mimpi  ini akan membawa saya pada kebahagiaan, meskipun kebahagiaan tersebut tidak sama bentuknya jika saya mengejar kebahagiaan lain yang sifatnya ego sentris.

Toh, bahagia, apapun rupa dan wujudnya, tetap sama dalam rasa.

Tulisan ini bisa dikatakan sebagai justifikasi kerempongan dan kelabilan saya.
Niatan diri tidak menyakiti, malah jadi merepotkan dan mengesalkan. 
Tapi percayalah, intinya, saya sayang kalian dan tidak mau salah langkah.

Pun setelah dipikir kembali, hal kecil ini bisa jadi sedikit bukti bahwa kita, saya khususnya, pada dasarnya hidup untuk orang lain. Memilih, untuk kepentingan bersama.

Meskipun hanya keputusan sederhana: " keramas atau tidak?"  

Kamis, 20 September 2012

Nostalcinta

Hati lupa bersenandung cinta
Jiwa sepakat lupakan manisnya 
Raga lelah mengejar alamat damba
Asa tak geming membantu 
Putus karena lama tak guna
Ingin kembali merasa, pintaku padaNya

Senja ini ingatkanku
Kembali pada dua tahun lalu
Bening cahaya membawa bahagia
Bahagia yang dirindu hatiku
Yang ramai celoteh canda dan pilu
Yang sesak berjejal kisah
berebut untuk berbagi
hangat dan nyaman 
hingga raga yang lelah berhenti mencari  


Asa terjalin lagi
Meraut tawa bersama jiwa, 
karena hati berteriak akhirnya 
Kukecap sempurna

Inginku membaginya, 
agar empunya cahaya tahu 
apa yang didenyutkan jantungku tiap kali melihatnya.

Kerling bahagiaku untuk surga 
yang mengizinkanku membawa pulang seorang malaikatnya
Pinta pamungkasku padaNya,
Semoga ku tak tega patahkan sayap cahaya
Karena ego diaku cinta

Rasamu Buatku

Ini tentangku
Tentangku!
Aku ingin buaian cinta
Indahnya melukis jingga
Aku ingin kejutan
Menari mengiring awan
Aku ingin kau disana kala kupinta
Lebih baik bawa bunga
Sempurna!

Kau datang bawa rasa
Katanya 'kan buatku bahagia
Apa rasa?
Tak kasat ku tak suka
Harusnya ada kuaku tidak
Mana rasa?

Mentari kupinta
Bintang yang datang
Kubutuh pelangi
Senja kau beri
Inginku biru 
Kau ajak kelabu
Aku mau mauku
Mauku!

...
...
Hentikan sedih,
yang kutahu
dan jadi panduanku,
semesta punya kuasa
Ia bahagia kita bersama
Saling memberi menerima
Belajar berkirim rasa

...
...